Cerita-cerita sebelumnya:
Part I
Part II
Part III
Part IV
Enjoy!
Now or Never!
"Sebenarnya ada apa dengan mereka Na?" Kata Raka
"Benar, "dia" memang suka sama Karin" Kata Rena
"Dan itulah alasannya dia ingin menjatuhkanmu" Lanjutnya
"Bukan itu yang ingin ku tahu, karena itu aku sudah mengetahuinya" Raka masih berusaha mengungkap sesuatu dari Rena
"Slow Rak, depan kau itu orang yang kau anggap adik!" Kata Angga menenangkan
"Iya Rak, masih ada lagi, "dia" berusaha membuat kamu menyatakan perasaan kepada Karin"
"Maksudmu, perasaanku bahwa aku ingin menjadi kakaknya?"
"Bukan, tidak ada yang tahu bahwa kamu menganggap Karin itu adik, kecuali aku, Angga, dan kamu sendiri"
"Lalu?"
"Dia mau kau nembak Karin, Rak!" Potong Angga
"Dan itu tidak mungkin kan?" Kata Raka
"Dan itulah yang ingin aku beritahu kemarin Rak" Jelas Rena
"Itulah kenapa kamu melihat sikapnya semakin aneh dan menjadi bila dekat-dekat Karin, karena dia mau kamu nembak dia" Lanjut Rena panjang lebar
"Lalu? Apa yang harus ku lakukan Na? Ngga?"
"Menjelaskan tentang semua cerita ini kepada Karin, aku tahu kau telah mengetahui kebenaran tentang berita itu dari Ari dan Danar" Cecar Angga
"Iya, memang benar aku tahu berita siapa wanita itu, dan haruskah aku?"
"Iya Rak, kamu harus dan secepatnya"
"Saat Nonton Bareng, sebelum kamu ke Puncak, itu jawaban untuk masalahmu" Angga memberi jawaban
"Tidak ada waktu lain?" Sergah Raka
"That Time, or Never!" Jelas Angga singkat
Hening...
Raka memikirkan jawaban dari Angga serta penjelasan dari Rena. Mungkinkah itu jawaban terbaik? Itulah yang berkecamuk. Lalu....
"Haruskah aku bawa Ari atau Danar?" Raka memecahkan keheningan
"Apakah mereka berpihak kepada kita?" Tanya Angga
"Danar sepertinya iya, Ari aku tidak tahu" Kata Raka
"Kalau begitu, ajak dua-duanya aja" Usul Rena
"Begitu lebih baik" Raka mengangguk
"Aku anggap semuanya jelas" Angga mengakhiri diskusi
Mereka pun bersiap meninggalkan rumah rahasia milik Angga dan Raka.
"Oh iya, Ngga, antar Karin ya" Kata Raka sebelum berpisah
"Emang kenapa?" Angga menyelidik
"Tadi Rena janji buat mencarikan orang buat ngantar dia pulang" jelas Raka
"Benar Na?" Tanya Angga ke Rena
"Iya Ngga, tolong ya, dia sepertinya ga mau bila sama Raka" jawab Rena
"Lagian rumah kau dan dia dekat kan" lanjut Raka
Akhirnya, Mereka Bertiga menjemput Karin di sekolah, lalu pulang ke rumah masing-masing. Raka yang mengantar Rena masih memikirkan kata-kata untuk menjelaskan ke Karin nanti.
2 Jam sebelum Nonton Bareng, Minggu 12.00
Raka menelepon Ari, dan Danar. Mereka meng-iya-kan tawaran Raka, maka sudahlah penantian Raka dan Karin untuk mengetahui apa yang ada dipikiran masing-masing.
1 Jam sebelum Nonton Bareng, Minggu 13.00
Danar menelepon Rena...
"Na, nanti "dia" datang?" Tanya Danar
"Ng.... Ngga tau Dan, biar aku EOnya tapi mereka belum konfirmasi ke aku"
"Baguslah bila mereka tidak datang, tidak ada yang harus ku tutup-tutupi"
"Maksudnya Dan?"
"Samlekum" Danar mengakhiri.
Saat Nonton Bareng, benar saja, Raka sangat berdebar-debar, mengetahui waktunya sudah dekat. Di sisi lain, Ari dan Danar yang ternyata telah menunggu-nunggu saat ini juga merasa senang, karena misi mereka sepertinya akan berakhir. Rena juga turut bahagia, mengetahui orang yang dianggapnya kakak, Karin dan Raka akan segera mengakhiri masalah mereka.
Ditengah-tengah acara Nonton Bareng itu, ada yang tidak disangka-sangka.
"Hai semua, maaf telat, gapapa kan?" Seru orang itu
Rena, Raka, Danar, dan Ari kaget, karena suara itu tidak lain tidak bukan adalah suara "Dia".
Doni namanya, orang yang suka terhadap Karin, entah bagaimana perasaan Karin kepadanya, tapi dia tetap berusaha mendekatinya. Dia menganggap Raka adalah saingannya, sehingga dia selalu menunggu Raka untuk gugur saat menyatakan perasaan terhadap Karin.
"Eh, jadi dateng toh Don" kata yang lain
"Iyalah jadi, masa saat-saat kayak gini, gua ga dateng"
Hancur sudah harapan Raka.
"Jangan khawatir kak" Kata Rena
"Santai aja, aku dukung kok" Kata Ari
"Keep Your Spirit bro" Kata Danar
Semua bisikan itu membuat Raka mendapat kepercayaan diri kembali.
Diakhir Nonton Bareng, semua pulang, tinggalah 4 orang, Raka, Rena, Karin, dan Ari.
"Buka Ri" Kata Raka
"Baiklah, jadi gini" buka Ari
"Jadi, aku mau memberitahu kamu soal semuanya" Potong Raka
"Siapa dibalik berita itu, dan aku akan menjelaskan semuanya" Lanjut Raka
"Maksudnya apa nih?" Karin bingung
"Maksudnya apa nih?" Karin bingung
"Kami akan memberi tahu kebenarannya kak" jelas Rena
"Dan aku disini, untuk meyakinkan kau" kata Ari
"Dan semua wanita didalam berita itu" lanjut Ari
"Adalah" Rena melanjutkan
"Kamu, Karina" Raka menyelesaikan
"Ga mungkin! Pasti kamu bohongkan? Katakan bohong Ri" Karin membantah
"Bila aku mengatakan bohong, maka akulah yang berbohong" jawab Ari
"Na, bilang Na, itu Bohong kan?"
"Ngga Rin, itu semua benar" jawaban Rena
"Dan laki-laki didalam berita itu adalah, aku, dan Doni" Raka melanjutkan
"Ga mungkin! Kamu pasti bohong Rak, Doni ga suka aku!" Karin lagi-lagi membantah
"Silahkan Ri, menjelaskan" Raka melempar pertanyaan itu ke Ari
"Iya, Doni benar menyukaimu Rin" bagai kucing penurut, Ari menjawab
"Dan aku, aku tidaklah menyukaimu Rin, sebagaimana kamu tahu dari Rena" lanjut Raka
"Jawab sendiri ah, Ka" Rena menolak
"Baiklah, aku tidak menyukaimu, melainkan aku menyayangimu, sebagai adikku sendiri" lanjut Raka
"Tataplah aku baik-baik Rin, selama ini kamu mengira aku menyukaimu, tapi memang benar adanya aku menyukaimu, itu tak lain adalah refleksi dari segala kebaikanmu kepadaku"
"Tataplah aku baik-baik Rin, selama ini kamu mengira aku menyukaimu, tapi memang benar adanya aku menyukaimu, itu tak lain adalah refleksi dari segala kebaikanmu kepadaku"
"Dan aku menyayangimu, karena aku yakin kamu adalah orang yang perlu dijaga"
"Aku mengajarimu, mengajari Rena, berbeda dengan aku mengajari yang lain"
"Untukmu, aku mengalah, untuk Rena aku mengalah"
"Karena kamu harus tahu, aku adalah orang yang..."
"Stop, aku sekarang sudah tahu semuanya" potong Karin
"Entah aku menganggapmu sebagai apa"
"Akankah kamu akan terus menyayangiku Rak?" tanya Karin
"Tak perlu kamu ragukan lagi, aku akan terus menjadi kakakmu"
"Walaupun kamu, menganggap aku adik" jawab Raka
"Baiklah, maafkan aku, yang pernah cuekin kamu"
"Sungguh, aku ga mau bila kita terlibat hubungan lebih dari sahabat"
"Kamu tahu maksudku, dan bukan maksudku tidak menyukai kamu"
"Tapi kamu tahu, aku pernah mengalami ini kan?"
"Aku tidak mau, kamu terlibat cek-cok dengan mereka, ataupun Doni" jelas Karin
"Sesungguhnya aku tahu perasaanmu"
"Sesungguhnya memang ada niat menjadikanmu pendamping pertamaku"
"Tapi aku mengetahui masalahmu itu, dan aku menghilangkan niat itu"
"Aku merasa lebih baik menjadi kakakmu"
"Selalu ada untukmu, dan memberikan jawaban untuk semua masalahmu"
"Selalu ada untukmu, dan memberikan jawaban untuk semua masalahmu"
"Dan menjagamu" jawaban Raka
"Karin itu wanita yang pantas diperjuangkan"
"Dia susah didapatkan"
"Bila dia sudah didapat"
"Bila dia sudah didapat"
"Jangan Lepaskan" Potong Rena, mengulang kata-kata yang pernah kuucap
"Bisakah? Karin, jawabannya hanya ada padamu" tanya Raka
"Untuk menjadi saudara, dan keluarga" lanjut Rena
"Aku, tidak menyangka"
"Seberharga itu aku, bagi kalian"
"Aku melakukan feedback sebagaimana kalian"
"Kakakku Raka, dan Adikku Rena"
Jawaban Karin, menyelesaikan semua masalah, dan berita tersebut telah jelas. Raka yang sudah terlihat tenang, akhirnya bisa mengakhiri semua misinya. Rena akhirnya senang, kedua sahabat yang bagai kakaknya itu, Raka dan Karin bisa bersama kembali. Dan terakhir Ari, yang sedari tadi diam, bersyukur semua berita yang dia buat menjadikan ini akhir yang bahagia.
Sekian semua cerita, 5 part tersusun, dari Blom ada Judul, Past for Remember, Seeking The Time, Time to Reveal dan terakhir Now or Never. Tunggu Cerita, entah itu Cerpen atau Bersambung lagi dari gue.
Last but not Least, semua tokoh adalah fiktif, tapi karakter mereka asli dan ada di kehidupan gue, dan mungkin ada juga di kehidupan anda.
Seseorang yang menuliskan ini RIFKI RASYID
1 comment:
woi DONInya cuman bentar
endingnya rada kurang nyambung gw
;bingung
Post a Comment