Sebelumnya Ingat! Semua nama karakter adalah fiktif, cuma gue doang yang ga fiktif hahahaha.
Beginning
Di sebuah daerah yang masih hijau, terlihatlah seorang Pria, dia tidak gagah, badannya sedikit gemuk, wajahnya biasa saja, tapi tersirat bahwa dia adalah pria yang sangat baik.
"Daerah ini sungguh sejuk"
"Bagus untukku, untuk memikirkan tentang kejadian itu"
"Seharusnya aku tahu, dari awal dia tidak menyukaiku"
"Tapi aku juga tidak menyukainya, aku hanyalah sayang padanya"
"Andai ku tahu semua akan begini, aku tidak akan menunjukkan rasa sayangku"
"But, That Already Go on, I Must Face it"
"Uhh pagi ini dingin, sebaiknya aku kembali"
Pria itu adalah Raka, seorang siswa SMA masa kini, tetapi hidup dalam aturan masa lalu yang ketat. Jantan, dan Tangguh adalah motto hidupnya sehari-hari untuk melewati semua permasalahannya.
"Oh iya, aku harus ke rumah Rena"
"Dia memiliki sesuatu untukku"
Dipacunya motor butut pemberian Ayahnya, yang dia pakai untuk kesekolah sehari-hari. Tak lama dia sampai disebuah rumah, tidak megah, tetapi asri, sangat nyaman.
"Rena, aku sudah datang, apakah yang akan kau beri tadi?"
"Kau sudah datang? Aku akan segera keluar" balas suara seorang wanita yang mirip seperti suara anak kecil
Tak lama, keluarlah seorang wanita, anggun, manis, dengan wajah riang. Dialah Rena, Raka menganggap Rena sudah seperti adiknya, dan dia jugalah yang memegang banyak rahasia Raka, terutama perihal rahasia itu.
"Apa yang akan kau beri tadi?" Sambut Raka
"Oh itu, ya, aku menemukan info baru Rak" balasnya
"Info apa? Tentang itu?"
"Iya Rak, tentang itu, aku tahu siapa yang akan menjatuhkanmu suatu saat nanti"
"Serius? Benar ada yang mau menjatuhkanku? This is Insane"
"Memang gila, melihat kelas kita sangatlah solid"
"Hari mulai mendung Rak, sepertinya akan turun hujan, sebaiknya kamu masuk dulu"
Raka, dengan muka shock, dia masuk ke rumah itu. Benar kata Rena, tak lama turunlah hujan. Sementara didalam, Raka dan Rena masih membicarakan soal "itu".
"Siapakah orang itu Na? Siapa?" Tanya Raka dengan amarah
"Orang itu adalah.... dia"
"Dia siapa Na?"
"Dia, yang menyukai wanita itu"
"Hah? Gila, apa yang membuatnya berpikiran seperti itu"
"Entahlah Rak, mungkin dia tahu tentang perasaan mu"
"Tapi Na, aku hanya sayang dia bagai aku menyayangi adikku, seperti kamu lah"
"Entah, tapi yang ku tahu, wanita itu takut bahwa "dia" hanya ingin mempermainkannya"
"Ah, ini gila, aku tak tahu apa yang harus kulakukan"
"Mudah Rak, sangat mudah"
"Apa Na? Apa??"
"Jaga Dirimu, jangan sampai sesuatu dari kamu, atau kita yang ketahuan sama "dia""
"Baiklah Na, sebaiknya aku pulang"
"Tapi, di luar masih hujan?"
"Tak apa, mungkin air hujan bisa menyegarkan pikiranku akan wanita itu"
"Baiklah Rak, aku tak dapat menahanmu kan?"
Rena segera mengantar Raka keluar, dalam hatinya sesungguhnya dia khawatir akan situasi dan kondisi Raka saat ini. Dia tak ingin Raka sakit hati karena wanita itu, tapi sebaliknya dia juga tidak mau Raka menjadi sesuatu yang lebih dekat dari hubungan adik-kakak dengan wanita itu, karena seandainya lebih, maka sesuatu hal buruk akan terjadi kepada Raka, Wanita itu, dan Dirinya sendiri.
Raka mengenakan jas hujannya, headset ditelinga kiri-kanannya membawakannya alunan musik dari band kesukaannya. Motor menyala, setelah mengatakan ia mengatakan akan baik-baik saja kepada Rena, ia segera menggas motornya, kembali ke tempat favoritnya, bukan ke rumah seperti yang ia bilang. Tempat favorit itu adalah Bukit, ya bukit kenangannya bersama wanita itu, dimana dia pertama kali merasa dekat dengan seorang wanita yang membawanya kedalam suasana ceria.
"Tak kusangka, aku yang berniat pulang malah kembali kemari"
"Dan tak kusangka juga, informasi dari Rena memang sangat berharga"
"Ya, mungkin aku terlalu dalam memikirkannya"
"Tapi tak salahkan aku memikirkan seorang wanita yang ku sayang, yang ku anggap dia adalah adikku"
"Huh, sayang aku tak punya adik kandung wanita"
"Mungkin bila punya, aku dapat memahami perasaan Rena dan perasaan dia"
Raka termenung, sendiri menatap cakrawala. Sangat sulit menemukan garis cakrawala didaerah padat penduduk seperti ini.
"Siapa disana!" Seru Raka
"Heh, walaupun kau termenung begitu masih saja bisa menyadari kehadiranku"
"Hah, kau ternyata, tak sulit bagiku merasakan kehadiran orang yang membuat suara gemericik di semak-semak"
"Haha, memang aku tak pandai menyelinap, tak seperti kau mantan maling hahahahaha" Tawa pria itu puas
"Hahaha, enak saja kau, daripada kau ini, mantan maling gagal hahaha" Tawa Raka membalas
"Sebenarnya ada apa?" lanjut Raka
"Aku, ditelepon oleh Rena, sepertinya kau butuh bantuanku"
"Ah Rena, kau tahu masalahku?"
"Tidak!"
Hening... Karena jawaban singkat itu cukup bagi Raka, dia tidak ingin banyak orang tahu tentang masalahnya.
"Sebenarnya ada apa kawan?" Lanjut pria itu
"Tak ada apa-apa, aku hanya kalut"
"Tentang itu?"
"Itu apa? Ngaco kau, kau saja tak tahu masalahnya"
"Kata siapa? Aku tahu lebih banyak darimu"
"Buktikkan!"
"Kau kesini karena kau ingin ngintip wanita yang suka mandi di sungai itukan?"
"Ah, lagi-lagi kesok tauan mu membuatku muak"
"Haha aku hanya bercanda kawan"
"Jadi sebenarnya ada apa?"
"Kau tentang memikirkan wanita itu kan" jawab pria itu, dengan mimik muka yang lebih serius dari sebelumnya
"Sepertinya kau sudah tahu ya" Jawab Raka
"Tak ada gunanya, sebaiknya kita pergi" Lanjut Raka
Pria itu adalah Angga, sahabat Raka. Dia memang iseng, tetapi dia sangat baik.
Mereka berduapun meninggalkan bukit itu, mereka mengarahkan kendaraan masing-masing ke daerah rumah Angga, yang bisa dibilang dekat dengan rumah wanita itu"
"Entah apa yang aku fikirkan" tiba-tiba Raka memulai pembicaraan
"Bawa rileks sajalah" Balas Angga
"Rumah ini sangat dekat dengan rumahnya"
"Memang, lalu apa yang kau khawatirkan?"
"Aku takut, dia datang kemari"
"Apa yang membuatmu berfikiran begitu Rak?"
"She is Your Childhood Friend Right?"
"Ya memang, tapi tak selalu dia kesini"
"Tapi ada kemungkinan kan"
"Tidak untuk sekarang sepertinya"
"Mengapa?"
"Aku takut kau cemburu" jawab Angga, Raka langsung tahu bahwa Angga bercanda, tetapi dia sepertinya tidak bisa menanggapi candaan saat ini
"Jangan kau bicara seperti itu"
"Kau sudah punya wanita lain, jangan kecewakan dia!" Lanjut Raka
"Santai, aku hanya bercanda"
"Baiklah Ngga, ini sudah rumah ketiga yang kunjungi, sebaiknya aku pulang"
"Baiklah, ingat jangan lewat kanan, itu hanya akan membuatmu sakit hati"
"Maksudmu?"
"Kanan, adalah jalan keluar dari komplek ini, yang akan melewati rumah wanita itu kan"
"Lalu?"
"Aku tak mau kau mengunjunginya saat ini, lewatlah Kiri"
"Baiklah, aku mengerti maksudmu Ngga."
Raka kembali ke jalan. Kali ini dia benar-benar kembali ke rumahnya.
Sesampai dirumah, Dia langsung melepas semua perangkat yang ada ditubuhnya, menggantinya dengan yang baru. Lalu, Pria tambun itu, tertidur....
Akan Bersambung...
Seseorang yang menuliskan ini RIFKI RASYID
2 comments:
jyee nenekkk
a story from the deepest heart
itukan fanfic gan -_-"
Post a Comment