Welcome To My Page

Feel free to read and leave comments.

Saturday, December 11, 2010

[Cerbung] A Past For Remember

Semua Tokoh dalam cerita ini hanyalah Fiktif, Cuman gue yang ga fiktif hahahahaha

Sebuah Ingatan, A Past for Remember

"Ah Jam berapa ini?"
"Hah? Jam 8 Pagi, pastinya aku tertidur semalam"

Pagi itu mendung, seperti perasaan Raka yang masih kelabu. Memikirkan hal yang sebenarnya tak perlu dia pikirkan.

"Hmmm, misscall dari Rena 10x dan banyak SMS"
"Sepertinya dia khawatir, sebaiknya aku balas"

Setelah menulis pesan singkat, Raka segera mengambil handuk dan mandi.
Hari Minggu itu memang terlalu kelabu, tidak seperti biasanya hari minggu yang penuh dengan keceriaan. Selepas mandi, tak lama handphone Raka kembali berbunyi, tanda ada telepon masuk.

"Halo, Rak, kamu baik-baik saja kan?"
"Halo Na, iya aku biasa-biasa saja"
"Selepas kemarin kau pergi, ternyata kau ke Bukit kan"
"Iya, aku memang kesana, dan kau mengirim Angga kan?"
"Tidak, dia menerka kemana kau pergi, ternyata tebakannya benar"
"Hmmm, sebenarnya ada apa?"
"Tidak, aku hanya khawatir Rak, kamu belum sms atau telepon semenjak pulang"
"Ya mungkin aku lupa. Oh iya aku harus pergi lagi"
"Baiklah hati-hati"
"Bye, Na"

Pembicaraan berakhir, Raka segera bergegas, kunci, dompet, tas disabetnya dan segera keluar dari kamar. Setelah berpamitan, dia menggas motornya, tujuannya tak lain adalah.... Rumah Danar. Danar adalah dalang dari semua ini, andai dia tidak menerbitkan gossip-gossip aneh itu, tak akan serumit ini masalahnya.

Tak lama, sampailah dia di rumah Danar.

"Danar, keluar kau!" Seru Raka
"Oi, santai, komplek orang ini bos" Danar keluar dengan mata mengantuk
"Ya, Aku tau! Tapi masalah ini harus segera selesai!" Kata Raka masih setengah berteriak
"Masalah yang mana?"
"Tentang Dia!"
"Hah? Sudahlah kawan, tak perlu kau pikirkan itu"
"Aku sudah tahu kebenarannya Nar!"
"Kebenaran apa?"
"Tentang wanita itu, dia, dan juga aku"
"Lalu?"
"Kau tahu, dia menyadar aku juga menyukai wanita itu, tapi kau, dia dan semua orang tidak tahu bagaimana kebenarannya!"
"Aku tahu"
"Tahu apa kau?"
"Aku tahu, kau ingin menjadi kakaknya kan?"
"Darimana kau tahu?"
"Tak penting, aku punya jiwa jurnalis, sama seperti kau, tak usah kau heran"
"Tapi..."
"Yasudah, kau ingin kesana kan"
"Ya, tempat lama kita, 3 tahun yang lalu"
"Baiklah, tunggu aku mandi sebentar, kau datang terlalu pagi"
"Baiklah, mungkin ada baiknya kau cerita apa yang kau ketahui"
"Ya, dan banyak yang perlu kau ketahui dariku Rak"

Setelah selesai menunggu Danar, mereka berdua pergi kesana, ya Bukit itu. Bukit itu memang selalu menjadi kenangan bagi Raka, sedangkan bagi Danar, itu adalah tempatnya bertemu dengan kawan-kawan baru setelah melepas masa kecilnya.

"Kau tahu, aku sudah melupakan semua masa laluku?" Kata Raka
"Ya, aku tahu, dan kau berusaha mengingatnya kan?"
"A Past for Remember, aku sudah lupa bagaimana wajahnya saat kita pertama kali bertemu"
"Menyesallah engkau, hahaha" Tawa Danar meledak
"Tidak juga, aku beruntung melupakannya, sehingga aku hanya melihat sisi baiknya"
"Dia baik sejak dulu Rak, bukan baru"
"Iya, tapi aku beruntung melupakan sisi burukku padanya, dan melihat sisi baiknya saat ini"
"Hanya itu?"
"Ya hanya itu"

Hening... Raka masih mencoba mengingat bagaimana pertama kali dia, bertemu dengan wanita itu. Sangat indah, suasana saat itu sangat nyaman, aura kebaikan wanita itu memang telah memancar sebagaimana rupanya saat ini, Indah. Tak seperti dahulu rupa wanita itu masih lugu, tapi memang rasa tertarik Raka pada wanita itu sudah terjadi beberapa bulan sejak bertemu. Rasa suka dan sayang Raka hanyalah bagaikan refleksi dari kebaikan hati wanita itu, wanita yang selama ini membantunya dan memberikannya pencerahan.

"Andai aku bisa" Raka memulai lagi
"Bisa apa?" Danar sepertinya makin antusias
"Andai aku bisa menyadari hal ini lebih awal Nar"
"Hahaha, lupakan, sebentar lagi Ujian menghadang, masih saja kau memikirkan dia?"
"Ya, aku khawatir nilai dia jeblok Nar"
"Bah, klise sekali kau, bagaimana dengan nilaimu sendiri?"
"Kau tak yakin dengan kemampuanku hah?"
"Dan aku yakin akan kemampuan dia hahahaha"
"Mungkin benar juga"
"Memang benar, tak pakai mungkin"
"Bisa saja kau"
"Sepertinya ada yang akan datang Rak"
"Aku tahu"
"Ya, lebih baik keluar lah kau!" Seru Danar
"Tak bosan kau mengumpat dibalik semak?" Kata Raka melanjutkan

Tak disangka, benar saja ada sesosok Pria keluar dari semak-semak.

"Tak kusangka, kau bisa menebak kehadiranku" kata Pria itu
"Ada apa kemari, Mon?" Sahut Raka
"Tak ada apa-apa, ini merupakan tempat kenangan kelas kita kan?" kata Pria yang dipanggil Mon tadi.
"Hmmm, semenjak lulus, hanyalah aku seorang yang sering ke bukit ini"
"Ya memang, setelah lulus, kehangatan kelas kita 3 tahun lalu mulai terlupakan"
"Haha, sebaiknya aku kembali" Tiba-tiba Danar memotong.
"Kenapa kau? Tak senang ada Emon datang?" sahut Raka
"Tidak, aku tak ingin berlama-lama disini"
"Aku juga sepertinya ingin balik Rak" Emon melanjutkan
"Kau juga kenapa? Bukankah kau baru datang?"
"Aku kesini, hanya sekedar melintas, ternyata ada kalian"
"Oh begitu, yasudah, aku masih tetap disini"

Kepergian 2 temannya, memberikan waktu bagi Raka untuk menyendiri. Sepertinya dia masih mencoba, mencoba mengingat kejadian-kejadian dulu. Dulu, Emon adalah temannya, pergi bersama pulang bersama, dan dia juga sepertinya mengetahui tentang rasa Raka untuk wanita itu. Ya Emon juga kenal baik dengan wanita itu.

"Ahh, sebaiknya aku pergi juga"
"Tak terasa 3 jam sejak mereka pergi"
"Hmmm, jam 12 siang, time to back"
"Maybe, i never remember my past"

Digas motornya, kembali...
Kembali ke tempat rahasia lain, dibalik kemisteriusan Raka


Akan Bersambung....
Seseorang yang menuliskan ini RIFKI RASYID

No comments: