Welcome To My Page

Feel free to read and leave comments.

Tuesday, December 14, 2010

[Cerbung] Seeking The Time

Sebelumnya Ingat! Semua nama karakter adalah fiktif, cuma gue doang yang ga fiktif hahahaha.

Cerita-cerita sebelumnya:
Part I
Part II

Enjoy...
Seeking The Time

"Tak kusangka akan kembali kesini" ujar Raka
"Tempat ini telah 4 tahun ku tinggalkan"
"Hmm, ruangan ini masih saja menyisakan kenangan itu bagiku"

Raka telah sampai ke tempat yang ia tuju. Ternyata tempat itu adalah sebuah sekolah, sekolah dimana Raka pernah menyukai seorang gadis, jenius, polos, cantik. Ruangan kelas menyisakan sejuta kenangan bagi Raka, 3 tahun selalu sekelas dengan si gadis, benar-benar membuatnya terpikat.

"Hmm, 6B...."
"Oii, Siapa disitu" Tiba-tiba ada suara muncul dari belakang Raka
"Oh, elo Rak, ngapain?" Kata Pria itu
"Biasa nostalgia, elo sendiri ngapain?"
"Ga ngapa-ngapain, cuma iseng"

Pria itu adalah Dimas, Partner in Crime-nya Raka waktu SD. Membuat Raka jatuh cinta terhadap game juga karena pria ini.

"Sejak kapan disini Rak?" kata Dimas memulai
"Baru, hari ini hari minggu, ga gue sangka sekolah buka"
"Oh, kalo gue emang sering kesini hari minggu"
"Lah, elo ngapain?"
"Entah, rumah gue jg deket ini dari sini"
"Elo dah mau balik lagi?"
"Engga, gue cuma mau nebak"
"Nebak apa Dim?"
"Elo mikirin "dia" kan?"
"Ah, terlalu banyak wanita dalam pikiran gue saat ini"
"Alah, sok player lo wkwkwk"
"Hmmm, entahlah"
"Jadi? Mau RO?"
"Hmm, boleh, tapi idRO gue dah ga ada Dim"
"DotA aja dai, santai yok bareng, elo bawa motor kan?"
"Hmm, baiklah sok naek"

Kedua sahabat lama itu, mengarah ke warung internet tak jauh dari sekolah itu. Entah apa yang dipikirkan Raka, kembali bermain game. Raka hampir sudah 6 bulan tidak bermain game, entah karena kegalauan hati atau sebab lain. Karena saat ini, ia sedang bermain, bermain dengan api, dengan hati, dengan orang-orang yang mendukungnya.

"Dah, dah Dim"
"Ngapa? baru 2 game"
"It's enough"
"So? mau cabut?"
"Iya, see you later bro"
"Oke dah"

3 jam setelah jam 12, pukul 15.00, Raka kembali ke sekolah itu, memasuki masjid tempat dia dahulu diajarkan agama. Ashar adalah waktu yang sering dilupakannya, entah apa hari ini ada yang membuatnya sadar. Waktu berlalu sangat cepat, Raka bersiap untuk kembali, entah kembali kemana. Terlalu misterius sesosok Raka ini. Tiba-tiba, handphone Raka berdering, tertulis nama Danar disana, entah apa yang akan dibicarakannya.

"Ada apa?" Jawab Raka datar
"Aku punya berita yang kau butuhkan" Kata Danar tergesa-gesa
"Temui Ari, di Bukit itu" Lanjut Danar
"Hah? Bagaimana mungkin dia tau Bukit itu?" Raka sedikit shock
"Karena aku memberi tahunya, lemot, dah segera kesana, bila kau mau mendapatkan informasi itu"
"Baiklah, nada kau seperti orang mau dibunuh saja"
"Mungkin memang! Jadi segeralah!"

Telepon ditutup. Raka mengenal Ari memang kurang dekat, dia juga tidak tahu kemana keberpihakannya saat ini. Ari adalah teman jurnalis Danar, entah informasi apa itu, tapi membuat Raka tertarik. Segeralah Raka mengejar waktu ke Bukit itu.

Sesampainya di Bukit

"Aku sudah menunggumu sejak lama" Sambut Ari
"Aku sudah tahu, jadi apa informasi itu?" Lanjut Raka tergesa-gesa
"Santai, aku tahu, kau mau tahu kemana aku berpihak kan?"
"Ya, itu juga alasanku datang kemari"
"Baiklah duduk, aku adalah penanggung jawab semua berita ini"
"Jadi kau? Bukan Danar?"
"Danar hanya partner, dia mau melindungiku karena aku tahu bahwa akan ada yang marah"
"Jadi? Jadi apa informasi itu?"
"Tentang "dia"'...."
"Apa?"
"Dia sudah memiliki rahasia mu Rak, lebih baik kau lebih jaga sikap"
"Hah? Rahasia itu? Darimana?"
"Entah Rak, mungkin itu hanya gertakan, tapi hanya itu yang ku tahu, entah benar atau tidak"
"Hmm, kau meragukan, katakan yang sebenarnya!" Raka mulai emosi
"Baiklah, "dia" sepertinya menggertak bahwa dia mempunyai rahasiamu"
"Terus?"
"Ya, dia terlalu kagum, dengan caramu membawa diri"
"Lalu?"
"Jagalah Rena, dia adalah kunci brangkasmu kan?"

Mendengar itu, Raka langsung menyalakan motornya, dan segera ke rumah Rena, entah apa yang ia pikirkan, saat itu sekitar jam 16.30 WIB, dan hari minggu dimana esoknya adalah hari Ujian Sekolah. Ari melihat itu hanya diam, sepertinya dia sudah tau reaksi Raka akan seperti ini.

Rumah Rena, 17.00 WIB

"Ren! Keluar Please" Seru Raka
"Sebentar Rak, ngapain kamu sore-sore gini datang?"
"Aku pinjam handphonemu Na"

Diambilnya handphone Rena, dan dilihatnya ya sms dari "dia" dan juga beberapa sms dari "wanita itu".

"Na, aku mohon bisakah?"
"Ya, apa?"
"Lupakanlah semua rahasiaku..."
"Kenapa kamu Rak?"
"Entah, tapi ku yakin ada sesuatu mengintai dirimu"
"Mengintai apa?"
"Mengintai dirimu dan rahasiaku"
"Aneh kamu Rak!"
"Ya aku memang aneh, aku gila, tapi aku tidak tega bila kau terlibat masalah ini"
"Sebenarnya...."
"Masuklah, aku akan pergi, menjadi tanda tanya besar seorang lelaki ke rumah wanita malam-malam"
"Sebenarnya....." Rena belum sempat menyelesaikan kalimatnya, suaranya sudah tertutup suara mesin motor Raka.

"Sebenarnya.... kamu mau tahu....."

Hening......

Akan Bersambung.........
Seseorang yang menuliskan ini RIFKI RASYID

1 comment:

hafiz said...

ckckck, gak sabar part ke 4